Pengertian
Kerangka dasar
vertikal merupakan kumpulan titik - titik yang telah diketahui atau ditentukan
posisi vertikalnya berupa ketinggiannya erhadap bidang rujukan ketinggian
tertentu. Bidang ketinggian rujukan ini bisa berupa ketinggian muka air laut
rata - rata (mean sea level - MSL) atau ditentukan lokal. Umumnya titik
kerangka dasar vertikal dibuat menyatu pada satu pilar dengan titik kerangka
dasar horizontal.
Pengadaan jaring kerangka dasar vertikal dimulai oleh Belanda dengan menetapkan MSL di beberapa tempat dan diteruskan dengan pengukuran sipat datar teliti. Bakosurtanal, mulai akhir tahun 1970an memulai upaya penyatuan sistem tinggi nasional dengan melakukan pengukuran sipat datar teliti yang melewati titik - titik kerangka dasar yang telah ada maupun pembuatan titik - titik baru pada kerapatan tertentu. Jejaring titik kerangka dasar vertikal ini disebut sebagai Titik Tinggi Geodesi (TTG).
Hingga saat ini, pengukuran beda tinggi sipat datar masih merupakan cara pengukuran beda tinggi yang paling teliti. Sehingga ketelitian kerangka dasar vertikal (K) dinyatakan sebagai batas harga terbesar perbedaan tinggi hasil pengukuran sipat datar pergi dan pulang. Pada tabel 2 ditunjukkan contoh ketentuan ketelitian sipat teliti untuk pengadaan kerangka dasar vertikal. Untuk keperluan pengikatan ketinggian, bila pada suatu wilayah tidak ditemukan TTG, maka bisa menggunakan ketinggian titik triangulasi sebagai ikatan yang mendekati harga ketinggian teliti terhadap MSL.
Pengadaan jaring kerangka dasar vertikal dimulai oleh Belanda dengan menetapkan MSL di beberapa tempat dan diteruskan dengan pengukuran sipat datar teliti. Bakosurtanal, mulai akhir tahun 1970an memulai upaya penyatuan sistem tinggi nasional dengan melakukan pengukuran sipat datar teliti yang melewati titik - titik kerangka dasar yang telah ada maupun pembuatan titik - titik baru pada kerapatan tertentu. Jejaring titik kerangka dasar vertikal ini disebut sebagai Titik Tinggi Geodesi (TTG).
Hingga saat ini, pengukuran beda tinggi sipat datar masih merupakan cara pengukuran beda tinggi yang paling teliti. Sehingga ketelitian kerangka dasar vertikal (K) dinyatakan sebagai batas harga terbesar perbedaan tinggi hasil pengukuran sipat datar pergi dan pulang. Pada tabel 2 ditunjukkan contoh ketentuan ketelitian sipat teliti untuk pengadaan kerangka dasar vertikal. Untuk keperluan pengikatan ketinggian, bila pada suatu wilayah tidak ditemukan TTG, maka bisa menggunakan ketinggian titik triangulasi sebagai ikatan yang mendekati harga ketinggian teliti terhadap MSL.
Pengukuran tinggi
adalah menentukan beda tinggi antara dua titik. Beda tinggi antara 2 titik
dapat ditentukan dengan :
- Metode pengukuran penyipat datar
- Metode trigonometris
- Metode barometri
Metode sipat
datar optis adalah proses penentuan ketinggian dari sejumlah titik atau
pengukuran perbedaan elevasi. Perbedaan yang dimaksud adalah perbedaan tinggi
di atas air laut ke suatu titik tertentu sepanjang garis vertikal. Perbedaan
tinggi antara titik - titik akan dapat ditentukan dengan garis sumbu pada
pesawat yang ditunjukan pada rambu yang vertikal. Tujuan dari pengukuran
penyipat datar adalah mencari beda tinggi antara dua titik yang diukur.
Misalnya bumi, bumi mempunyai permukaan ketinggian yang tidak sama atau
mempunyai selisih tinggi. Apabila selisih tinggi dari dua buah titik dapat
diketahui maka tinggi titik kedua dan seterusnya dapat dihitung setelah titik
pertama diketahui tingginya.
Sebelum digunakan alat sipat datar
mempunyai syarat yaitu: garis bidik harus sejajar dengan garis jurusan nivo.
Dalam keadaan di atas, apabila gelembung nivo tabung berada di tengah garis
bidik akan mendatar. Oleh sebab itu, gelembung nivo tabung harus di tengah
setiap kali akan membaca skala rambu. Karena interval skala rambu umumnya 1 cm,
maka agar kita dapat enaksir bacaan skala dalam 1 cm dengan teliti, jarak
antara alat sipat datar dengan rambu tidak lebih dari 60 meter. Artinya jarak
antara dua titik yang akan diukur beda tingginya tidak boleh lebih dari 120
meter dengan alat sipat datar ditempatkan di tengah antar dua titik tersebut
dan paling dekat 3,00 m. Beberapa istilah yang digunakan dalam pengukuran alat
sipat datar, diantaranya:
- Stasion adalah titik dimana rambu ukur
ditegakkan; bukan tempat alat sipat datar ditempatkan. Tetapi pada
pengukuran horizontal, stasion adalah titik tempat berdiri alat.
- Tinggi alat adalah tinggi garis bidik di
atas tanah dimana alat sipat datar didirikan.
- Tinggi garis bidik adalah tinggi garis bidik di
atas bidang referensi ketinggian (permukaan air laut rata-rata)
- Pengukuran ke belakang adalah pengukuran ke rambu yang
ditegakan di stasion yang diketahui ketinggiannya, maksudnya untuk
mengetahui tingginya garis bidik. Rambunya disebut rambu belakang.
- Pengukuran ke muka adalah pengukuran ke rambu yang
ditegakan di stasion yang diketahui ketinggiannya, maksudnya untuk
mengetahui tingginya garis bidik. Rambunya disebut rambu muka.
- Titik putar (turning point) adalah stasion dimana pengukuran
ke belakang dan kemuka dilakukan pada rambu yang ditegakan di stasion
tersebut.
- Stasion antara (intermediate
stasion) adalah
titik antara dua titik putar, dimana hanya dilakukan pengukuran ke muka
untuk menentukan ketinggian stasion tersebut.
- Seksi adalah jarak antara dua stasion
yang berdekatan, yang sering pula disebut slag. Istilah - istilah di atas
dijelaskan pada gambar 46.
Keterangan Gambar
46:
A, B, dan C = stasion: X = stasion antara
Andaikan stasion A diketahui tingginya,
maka:
A, B, dan C = stasion: X = stasion antara
Andaikan stasion A diketahui tingginya,
maka:
- Disebut pengukuran ke belakang, b
= rambu belakang;
- Disebut pengukuran ke muka, m =
rambu muka.
Dari pengukuran 1
dan 2, tinggi stasion B diketahui, maka:
- Disebut pengukuran ke belakang;
- Disebut pengukuran ke muka,
stasion B disebut titik putar
- Jarak AB, BC dst masing-masing
disebut seksi atau slag.
- Ti = tinggi alat; Tgb= tinggi
garis bidik.
Pengertian lain
dari beda tinggi antara dua titik adalah selisih pengukuran ke belakang dan
pengukuran ke muka. Dengan demikian akan diperoleh beda tinggi sesuai dengan
ketinggian titik yang diukur.
Berikut adalah
cara - cara pengukuran dengan sipat datar, diantaranya:'
Alat sipat datar
ditempatkan di stasion yang diketahui ketinggiannya.Dengan demikian dengan
mengukur tinggi alat, tinggi garis bidik dapat dihitung. Apabila pembacaan
rambu di stasion lain diketahui, maka tinggi stasion ini dapat pula
dihitung. Seperti pada gambar 47.
Keterangan gambar
47:
- ta = tinggi alat di A
- T = tinggi garis bidik
- HA = tinggi stasion A
- b = bacaan rambu di B
- HB = tinggi stasion B
- hAB = beda tinggi dari A ke B = ta –
b
untuk menghitung
tinggi stasion B digunakan rumus sbb:
HB = T – b
HB = HA + ta – b
HB = HA + hAB
HB = T – b
HB = HA + ta – b
HB = HA + hAB
Cara tersebut
dinamakan cara tinggi garis bidik.
Catatan:'
ta dapat dianggap hasil pengukuran ke belakang,
karena stasion A diketahui tingginya. Dengan demikian beda tinggi dari A
ke B yaitu hAB = ta – b. Hasil ini menunjukan bahwa hAB adalah
negatif (karena ta < b) sesuai dengan keadaan dimana stasion B lebih
rendah dari
stasion A.
stasion A.
- beda tinggi dari B ke A yaitu hBA
= b – t. Hasilnya adalah positif. Jadi apabila HB dihitung dengan
rumus HB = HA + hAB hasilnya tidak sesuai dengan keadaan dimana B
harus lebih rendah dari A.
- Dari catatan poin 1 dan 2 dapat
disimpulkan bahwa hBA = -hAB agar diperoleh hasil sesuai dengan
keadaan yang sebenarnya.
Cara
kedua
Alat sipat datar
ditempatkan diantara dua stasion (tidak perlu segaris).
Perhatikan gambar 48:'
Perhatikan gambar 48:'
hAB = a – b
hBA = b – a
hBA = b – a
Bila tinggi
stasion A adalah HA, maka tinggi stasion B adalah:
HB = HA + hAB = HA + a – b = T – b
HB = HA + hAB = HA + a – b = T – b
Bila tinggi
stasion B adalah HB, maka tinggi stasion A adalah:
HA = HB + hBA = HB + b – a = T – a''
HA = HB + hBA = HB + b – a = T – a''
Cara
ketiga
Alat sipat datar
tidak ditempatkan diantara atau pada stasion.
Perhatikan gambar 49:
Perhatikan gambar 49:
hAB = a – b
hBA = b – a
hBA = b – a
bila tinggi
stasion C diketahui HC, maka:
HB = HC + tc – b = T – b
HA = HC + tc – a = T – a
HB = HC + tc – b = T – b
HA = HC + tc – a = T – a
Bila tinggi
stasion A diketahui, maka:
HB = HA + hAB = HA + a - b
HB = HA + hAB = HA + a - b
Bila tinggi
stasion B diketahui, maka:
HA = HB + hAB = HB + b – a
HA = HB + hAB = HB + b – a
Dari ketiga cara
di atas, cara yang paling teliti adalah cara kedua, karena pembacaan a dan b
dapat diusahakan sama teliti yaitu menempatkan alat sipat datar tepat di
tengah - tengah antara stasion A dan B (jarak pandang ke A sama dengan jarak
pandang ke B).
Pada cara pertama
pengukuran ta kurang teliti dibandingkan dengan pengukuran b, dan pada cara
ketiga pembacaan a kurang teliti dibandingkan dengan pembacaan b. Selain itu,
dengan cara kedua hasil pengukuran akan bebas dari pengaruh kesalahankesalahan
garis bidik, refraksi udara serta kelengkungan bumi.
garis bidik, refraksi udara serta kelengkungan bumi.
Jenis
- Jenis Pengukuran Sipat Datar
Ada beberapa
macam pengukuran sipat datar di antaranya:
Digunakan apabila
jarak antara dua stasion yang akan ditentukan beda tingginya sangat berjauhan
(di luar jangkauan jarak pandang). Jarak antara kedua stasion tersebut dibagi
dalam jarak - jarak pendek yang disebut seksi atau slag. Jumlah aljabar
beda tinggi tiap slag akan menghasilkan beda tinggi antara kedua stasion
tersebut.
Tujuan pengukuran
ini umumnya untuk mengetahui ketinggian dari titik - titik yang dilewatinya dan
biasanya diperlukan sebagai kerangka vertikal bagi suatu daerah pemetaan. Hasil
akhir daripada pekerjaan ini adalah data ketinggian dari pilar-pilar sepanjang
jalur pengukuran yang bersangkutan.Yaitu semua titik yang ditempati olehrambu
ukur tersebut.
Sipat datar
memanjang dibedakan menjadi:
- Memanjang terbuka,
- Memanjang keliling
(tertutup),
- Memanjang terbuka terikat
sempurna,
- Memanjang pergi pulang,
- Memanjang double stand.
Kelainan pada
sipat datar ini adalah pemanfaatan konstruksi serta tugas nivo yang dilengkapi
dengan skala pembaca bagi pengungkitan yang dilakukan terhadap nivo tersebut.
Sehingga dapat dilakukan pengukuran beda tinggi antara dua titik yang tidak
dapat dilewati pengukur. Seperti halnya sipat datar memanjang, maka hasil
akhirnya adalah data ketinggian dari kedua titik tersebut. Seperti pada gambar
50 :
Perbedaan tinggi
antara A ke B adalah hAB = ½ {(a - b) + (a’ + b’)}. Titik-titk C, A, B,
dan D tidak harus berada pada satu garis lurus. Apabila jarak antara A dan B
jauh, salah satu rambu (rambu jauh) diganti dengan target dan sipat datar yang
digunkan adalah tipe jungkit.
Apabila sekrup
pengungkit dilengkapi skala untuk menentukan banyaknya putaran seperti nampak
pada gambar 51, yang dicatat bukan kedudukan gelombang nivo akan tetapi
banyaknya putaran sekrup pengungkit yang ditentukan oleh perbedaan bacaan skala
yang diperoleh.
Rumus yang
digunakan untuk menghitung b adalah:
Dimana:
n0 = bacaan skala pengungkit pada saat gelombung nivo berada di tengah
n0 = bacaan skala pengungkit pada saat gelombung nivo berada di tengah
n1 = bacaan skala
pengungkit pada saat garis bidik mengarah ke target atas.
n2 = bacaan skala
pengungkit pada saat garis bidik mengarah ke target bawah
Catatan:
- Untuk memperoleh ketelitian
tinggi, lakukanlah pengukuran ke masingmasing target berulang - ulang,
misalkan 20x.
- Pengukuran sebaiknya dilakukan
pada keadaan cuaca yang berbeda, misalnya ukuran pertama pagi hari dan
ukuran kedua sore hari. Hal ini dimaksudkan untuk memperkecil
pengaruh refraksi udara.
- Untuk memperkecil pengaruh
kesalahan refraksi udara dan kelengkungan bumi, pengukuran sebaiknya
dilakukan bolak balik. maksudnya, pertama kali alat ukur dipasang sekitar
A kemudian dipindah ke tempat sekitar B seperti nampak pada gambar berikut
ini:
Pengukuran ini
bertujuan untuk mengetahui profil dari suatu trace baik jalan ataupun saluran,
sehingga selanjutnya dapat diperhitungkan banyaknya galian dan
timbunan yang perlu dilakukan pada pekerjaan konstruksi.
Pelaksanaan
pekerjaan ini dilakukan dalam dua bagian yang disebut sebagai sipat datar profil
memanjang dan melintang. Hasil akhir dari pengukuran ini adalah gambaran
(profil) dari pada kedua jenis pengukuran tersebut dalam arah potongan
tegaknya.
- Profil memanjang Maksud dan
tujuan pengukuran profil memanjang adalah untuk menentukan ketinggian titik-titik
sepanjang suatu garis rencana proyek sehingga dapat digambarkan irisan
tegak keadaan lapangan sepanjang garis rencana proyek tersebut. Gambar
irisan tegak keadaan lapangan sepanjang garis rencana proyek disebut
profil memanjang. Di lapangan, sepanjang garis rencana proyek dipasang
patok-patok dari kayu atau beton yang menyatakan sumbu proyek. Patok-patok
ini digunakan untuk pengukuran profil memanjang.
- Profil melintang Profil melintang
diperlukan untuk mengetahui profil lapangan pada arah tegak lurus garis
rencana atau untuk mengetahui profil lapangan ke arah yang membagi sudut
sama besar antara dua garis rencana yang berpotongan. Apabila profil
melintang yang dibuat mempunyai jarak pendek ( 120 m), maka pengukurannya dapat
dilakukan dengan cara tinggi garis bidik. Apabila panjang, dilakukan
seperti profil memanjang.
Untuk
merencanakan bangunan - bangunan, ada kalanya ingin diketahui keadaan tinggi
rendahnya permukaan tanah. Oleh sebab itu dilakukan pengukuran sipat datar luas
dengan mengukur sebanyak mungkin titik detail. Kerapatan dan letak titik detail
diatur sesuai dengan kebutuhannya. Apabila makin rapat titik detail
pengukurannya maka akan mendaptkan gambaran permukaan tanah yang lebih baik.
Bentuk permukaan tanah akan dilukiskan oleh garis-garis yang menghubungkan
titik - titik yang mempunyai ketinggian sama. Garis ini dinamakan kontur.
Pada jenis
pengukuran sipat datar iniyang paling diperlukan adalah penggambaran profil
dari suatu daerah pemetaan yang dilakukan dengan mengambil ketinggian dari
titik - titik detail di daerah tersebut dan dinyatakan sebagai wakil daripada
ketinggiannya, sehingga dengan melakukan interpolasi diantara ketinggian yang
ada, maka dapat ditarik garis - garis konturnya diatas peta daerah pengukuran
tersebut.
Cara
pengukurannya adalah dengan cara tinggi garis bidik. Agar pekerjaan pengukuran
berjalan lancar maka pilihlah tempat alat ukur sedemikian rupa, hingga dari
tempat ini dapat dibidik sebanyak mungkin titik - titik di sekitarnya.
Dalam pengukuran
sipat datar akan pasti mengalami kesalahan - kesalahan yang pada garis besarnya
dapat digolongkan ke dalam kesalahan yang sifatnya sistimatis (Systematic
errors) dan kesalahan yang sifatnya kebetulan (accidental errors). Kesalahan -
kesalahan yang tergolong sistematis adalah kesalahan - kesalahan yang telah
diketahui penyebabnya dan dapat diformulasikan ke dalarn rumus matematika
maupun fisika tertentu
Misalnya,
kesalahan - kesalahan yang terdapat pada alat ukur yang digunakan antara lain
kesalahan garis bidik, kesalahan garis nol skala rambu; kesalahan karena faktor
alam antara lain refraksi udara dan kelengkungan bumi.
Kesalahan -
kesalahan yang tergolong kebetulan adalah kesalahan - kesalahan yang tidak
dapat dihindarkan dan pengaruhnya tidak dapat ditentukan, akan tetapi orde
besarnya biasanya kecil - kecil saja serta kemungkinan positif dan
negatifnya sama besar. Misalnya, kesalahan menaksir bacaan pada skala rambu,
menaksir letak gelembung nivo di tengah. Karena kesalahan sistimatik bersifat
menumpuk (akumulasi), maka hasil pengukuran harus dibebaskan dari kesalahan
sistematis tersebut. Cara yang dapat ditempuh yaitu dengan memberikan koreksi
terhadap hasilnya atau dengan cara - cara pengukuran tertentu.
Misalnya,
untuk menghilangkan pengaruh kesalahan garis bidik, refraksi udara dan
kelengkungan bumi, alat sipat datar harus ditempatkan tepat di tengah
antara dua rambu (jarak ke rambu belakang dan ke rambu muka harus dibuat sama
besar). Dengan demikian hasil pengukuran hanya dipengaruhi kesalahan yang
sifatnya kebetulan.
Untuk mengetahui
apakah pengukuran harus diulangi atau tidak dan untuk mengetahui baik tidaknya
pengukuran sipat datar (memanjang), maka ditentukan batas harga kesalahan
terbesar yang masih dapat diterima yang dinamakan toleransi pengukuran. Angka
toleransi dihitung dengan rumus:
Dimana :
T = toleransi dalam satuan milimeter
K = konstanta yang menunjukan tingkat ketelitian pengukuran dalam satuan milimeter
D = Jarak antara dua titik yang diukur dalam satuan kilometer
T = toleransi dalam satuan milimeter
K = konstanta yang menunjukan tingkat ketelitian pengukuran dalam satuan milimeter
D = Jarak antara dua titik yang diukur dalam satuan kilometer
Pengukuran sipat
datar memerlukan dua alat utama yaitu sipat datar dan rambu ukur alat sipat datar.
Biasanya alat ini dilengkapi dengan nivo yang berfungsi untuk mendapatkan
sipatan mendatar dari kedudukan alat dan unting - unting untuk mendapatkan
kedudukan alat tersebut di atas titik yang bersangkutan.
Pesawat sipat
datar yang kita gunakan dapat ditemukan pada beberapa alat berikut.
Kelebihan dari
alat sipat datar ini yaitu teleskopnya hanya bergerak pada suatu bidang yang
menyudut 90o terhadap sumbu rotasinya. Alat ini adalah alat yang
paling sederhana.
Bagian dari alat
ini meliputi:
- Landasan alat ini terletak
di atas dari tripod (statif) dan merupakan landasan datar tempat alat ukur
tersebut diletakan dan diatur sebelum melakukan pengukuran.
- Sekrup penyetel berfungsi untuk
mendatarkan alat ukur di atas landasan alat tersebut, juga untuk
mendatarkan sebuah bidang nivo yaitu bidang yang tegak lurus terhadap
garis gaya gravitasi.
- Tribach adalah platform
ataupun penghubung statip dan alat sipat datar.
- Teropong ini duduk di atas
tribach dan kedudukan mendatarnya diatur oleh ketiga sekrup penyetel yang
terdapat pada tribach diatas.Teropong ini dilengkapi dengan sekumpulan
peralatan optis dan peralatan untuk dapat memperbesar bayangan, reticule
dengan benang diafragma, serta peralatan penyetel lainnya.
- Nivo, pada alat ukur sipat datar
ini umumnya terdapat dua buah nivo. Dari jenis kotak yang terletak pada
tribach dan jenis tabung yang terletak di atas teropong. Nivo kotak
tersebut digunakan untuk mendatarkan bidang nivo dari alat tersebut, yaitu
agar tegak lurus pada garis grafvitasi dan nivo tabung digunakan untuk
mendatarkan teropong pada jurusan bidikan.
Tipe kekar
terdiri dari:
- Teropong,
- Nivo tabung,
- Skrup koreksi/pengatur nivo,
- Skrup koreksi/pengatur diafragma
(4 buah),
- Skrup pengunci gerakan horizontal,
- Skrup kiap (umumnya 3 buah),
- Tribrach, penyangga sumbu kesatu
dan teropong,
- Trivet, dapat dikuncikan pada
statip
- Kiap (leveling head), terdiri
dari tribrach dan trivet,
- Sumbu kesatu (sumbu tegak) ,
- Tombol focus
Kelebihan dari
sipat datar ini yaitu pada teropong terdapat nivo reversi dan teropong
mempunyai sumbu mekanis. Pada type ini teropong dapat diputar sepanjang sumbu
mekanis sehingga nivo tabung letak dibawah teropong. Karena nivo tabung
mempunyai dua permukaan maka dalam posisi demikian gelembung nivo akan nampak.
Disamping itu teropong dapat diungkit sehingga garis bidik bisa mengarah
keatas, kebawah maupun mendatar.
keatas, kebawah maupun mendatar.
Tipe Reversi
terdiri dari:
- Teropong,
- Nivo reversi (mempunyai dua
permukaan),
- Skrup koreksi/pengatur nivo
- Skrup koreksi/pengatur diafragma,
- Skrup pengunci gerakan
horizontal,
- Skrup kiap,
- Tribrach,
- Trivet,
- Kiap,
- Sumbu kesatu (sumbu tegak),
- Tombol focus,
- Pegas,
- Skrup pengungkit teropong,
- Skrup pemutar,
- Sumbu mekanis,'
Perbedaan tilting
level dan dumpy level adalah teleskopnya tidak dapat dipaksa bergerak sejajar
dengan plat paralel di atas. Penyetelan pesawat ungkit ini lebih mudah
dibandingkan dengan dumpy level. Kelebihan dari pesawat tilting level yaitu
teropongnya dapat diungkit naik turun terhadap sendinya, dan mempunyai dua nivo
yaitu nivo kotak dan nivo tabung.
Dalam tilting
level terdapat sekrup pengungkit teropong dan hanya terdiri dari tiga bagian
saja. Bagian dari alat ini, diantaranya:
- Dudukan alat, pada bagian alat
ini dapat berputar terhadap sumbu vertikal alat, yaitu dengan tersedianya
bola dan soket diantara landasan statif dan tribach tersebut.
- Teropong yang terdapat pada
alat ukur ini sama dengan pada alat ukur dumpy level ataupun teropong pada
umumnya.
- Nivo, demikian pula nivo yang
terletak di atas teropong tersebut mempunyai fungsi yang sama dengan yang
terdapat pada alat - alat lainnya.
Keterangan :
- Teropong,
- Nivo tabung,
- Skrup koreksi/pengatur nivo,
- Skrup koreksi/pengatur diagram,
- Skrup pengunci gerakan
horizontal,
- Skrup kiap,
- Tribrach,
- Trivet,
- Kiap (leveling head),
- Sumbu kesatu (sumbu tegak),
- Tombol focus,
- Pegas,
- Skrup pengungkit teropong,
Pada alat ini
yang otomatis adalah sistem pengaturan garis bidik yang tidak lagi bergantung
pada nivo yang terletak di atas teropong. Alat ini hanya mendatarkan bidang
nivo kotak melalui tiga sekrup penyetel dan secara otomatis sebuah bandul
menggantikan fungsi nivo tabung dalam mendatarkan garis nivo ke target yang
dikehendaki. Bagian - bagian dari alat sipat datar otomatis diantaranya:
- kip bagian bawah (sebagai
landasan pesawat yang menumpu pada kepala statif),
- sekrup penyetel kedataran (untuk
menyetel nivo),
- teropong, nivo kotak (sebagai
pedoman penyetelan rambu kesatu yang tegak lurus nivo),
- lingkaran mendatar (skala sudut),
dan
- tombol pengatur fokus (menyetel
ketajaman gambar objek).
Keistimewaan
utama dari penyipat datar otomatis adalah garis bidiknya yang melalui
perpotongan benang silang tengah selalu horizontal meskipun sumbu optik alat
tersebut tidak horizontal.
Keterangan :
- Teropong,
- Kompensator,
- Skrup koreksi/ pengatur
diafragma,
- Skrup pengunci gerakan
horizontal,
- Skrup kiap,
- Tribrach,
- Trivet,
- Kiap (leveling head/base plate),
dan
- Tombol focus.
Ketepatan
penggunaan dari keempat alat sipat datar diatas yaitu sama - sama digunakan
untuk pengukuran kerangka dasar vertikal, dimana kegunaan dari keempat
alat di atas yaitu hanya untuk memperoleh informasi beda tinggi yang relatif
akurat pada pengukuran di suatu lapangan.'
Rambu untuk
pengukuran sipat datar (leveling) diklasifikasikan ke dalam 2 tipe, yaitu:
- Rambu sipat datar dengan
pembacaan sendiri
- Jalon
- Rambu sipat datar sopwith
- Rambu sipat datar bersendi
- Rambu sipat datar invar
- Rambu sipat datar sasaran
Rambu ukur
diperlukan untuk mempermudah/membantu mengukur beda tinggi antara garis bidik
dengan permukaan tanah.
Rambu ukur
terbuat dari kayu atau campuran logam alumunium. Ukurannya, tebal 3 cm – 4 cm,
lebarnya + 10 cm dan panjang 2 m, 3 m, 4 m, dan 5 m. Pada bagian bawah
diberi sepatu, agar tidak aus karena sering dipakai. Rambu ukur dibagi dalam
skala, angka - angka menunjukan ukuran dalam desimeter. Ukuran desimeter dibagi
dalam sentimeter oleh E dan oleh kedua garis. Oleh karena itu, kadang disebut
rambu E. Ukuran meter yang dalam rambu ditulis dalam angka romawi. Angka pada
rambu ukur tertulis tegak atau terbalik. Pada bidang lebarnya ada lukisan milimeter
dan diberi cat merah dan hitam dengan cat dasar putih agar saat dilihat dari
jauh tidak menjadi silau. Meter teratas dan meter terbawah berwarna hitam, dan
meter di tengah dibuat berwarna merah.
Fungsi rambu ukur
adalah sebagai alat bantu dalam menentukan beda tinggi dan mengukur jarak
dengan menggunakan pesawat. Rambu ukur biasanya dibaca langsung oleh pembidik.
Pengukuran
trigonometris
Metode
trigonometris prinsipnya adalah mengukur jarak langsung (jarak miring), tinggi
alat, tinggi benang tengah rambu dan sudut vertikal (zenith atau inklinasi)
yang kemudian direduksi menjadi informasi beda tinggi menggunakan alat
theodolite. Seperti telah dibahas sebelumnya, beda tinggi antara dua titik
dihitung dari besaran sudut tegak dan jarak. Sudut tegak diperoleh dari
pengukuran dengan alat theodolite sedangkan jarak diperoleh atau terkadang
diambil jarak dari peta.
Pada pengukuran
tinggi dengan cara trigonometris ini, beda tinggi didapatkan secara tidak
langsung, karena yang diukur di sini adalah sudut miringnya atau sudut zenith.
Bila jarak mendatar atau jarak miring diketahaui atau diukur, maka dengan
memakai hubungan - hubungan geometris dihitunglah beda tinggi yang hendak
ditentukan itu.
Bila jarak antara
kedua titik yang hendak ditentukan beda tingginya tidak jauh, maka kita masih
dapat menganggap bidang nivo sebagai bidang datar.
Akan tetapi bila
jarak yang dimaksudkan itu jauh, maka kita tidak boleh lagi memisahkan atau
mengambil bidang nivo itu sebagai bidang datar, tetapi haruslah bidang nivo itu
dipandang sebagai bidang lengkung, Disamping itu kita harus pula menyadari
bahwa jalan sinarpun bukan merupakan garis lurus, tetapi merupakan garis
lengkung. Jadi jika jarak antara kedua titik yang akan ditentukan beda
tingginya itu jauh, maka bidang nivo dan jalan sinar tidak dapat dipandang
sebagai bidang datar dan garis lurus, tetapi haruslah dipandang sebagai bidang
lengkung dan garis lengkung.
Titik A dan B akan ditentukan beda tingginya dengan cara trigonometris. Prosedur pengukuran dan perhitungannya adalah sebagai berikut:
- Tegakkan theodolite di A, ukur
tingginya sumbu mendatar dari A. Misalkan t,
- Tegakkan target di B, ukur
tingginya target dari B, misalkan l,
- Ukur sudut tegak m (sudut miring)
atau z (sudut zenith),
- Ukur jarak mendatar D atau Dm
(dengan EDM), dan
- Dari besaran-besaran yang diukur,
maka:
Sudut tegak
ukuran perlu mendapat koreksi sudut refraksi dan bidang-bidang nivo melalui A
dan B harus diperhitungkan sebagai Permukaan yang melengkung apabila beda
tinggi dan jarak AB besar dan beda tinggi akan ditentukan lebih teliti. Lapisan
udara dari B ke A akan berbeda kepadatannya karena sinar cahaya yang datang
dari target B ke teropong theodolite akan melalui garis melengkung. Makin dekat
ke A makin padat. Dengan adanya kesalahan karena faktor alam tersebut di atas
hitungan beda tinggi perlu mendapat koreksi.
Dimana:
- k = koefisien refraksi udara =
0.14
- R = jari-jari bumi 6370 km
- Besarnya sudut refraksi udara r
dapat dihitung dengan rumus:
R = rm . Cp . Ct
rm = sudut refraksi normal pada tekanan udara 760 mmHg, temperatur udara 100C dan kelembaban nisbi 60%
Agar beda tinggi
yang didaptkan lebih baik, maka pengukuran harus dilakukan bolakbalik. Kemudian
hasilnya dirata - ratakan, dapat pula beda tinggi dihitung secara serentak
dengan rumus:
dimana:
- HA dan HB tinggi pendekatan A dan
B (dari peta topografi)
- m1’, m2’ sudut miring ukuran di A
dan B
- t dan 1 dibuat sama tinggi.
Pengukuran
Barometris
Metode barometris
prinsipnya adalah mengukur beda tekanan atmosfer suatu ketinggian menggunakan
alat barometer yang kemudian direduksi menjadi beda tinggi.
Pengukuran dengan
barometer relatif mudah dilakukan, tetapi membutuhkan ketelitian pembacaan yang
lebih dibandingkan dua metode lainnya, yaitu metode alat sipat datar dan metode
trigonometris
Hasil dari pengukuran barometer ini bergantung pada ketinggian permukaan tanah juga bergantung pada temperatur udara, kelembapan, dan kondisi - kondisi cuaca lainnya.
Hasil dari pengukuran barometer ini bergantung pada ketinggian permukaan tanah juga bergantung pada temperatur udara, kelembapan, dan kondisi - kondisi cuaca lainnya.
Pada prinsipnya
menghitung beda tinggi pada suatu wilayah yang relatif sulit dicapai karena
kondisi alamnya dengan bantuan pembacaan tekanan udara atau atmosfer
menggunakan alat barometer
Dari ketiga
metode di atas yang keuntungannya lebih besar ialah alat sipat datar, karena
setiap ketinggian berbedabeda dan tekanan berbeda - beda maka hasil
pengukurannya pun berbeda - beda. Pengukuran sipat datar KDV maksudnya adalah
pembuatan serangkaian titik - titik di lapangan yang diukur ketinggiannya
melalui pengukuran beda tinggi untuk pengikatan ketinggian titik - titik lain
yang lebih detail dan banyak. Tujuan pengukuran sipat datar KDV adalah untuk
memperoleh informasi tinggi yang relatif akurat di lapangan yang sedemikian
rupa sehingga informasi tinggi pada daerah yang tercakup layak untuk diolah
sebagai informasi yang lebih kompleks. Referensi informasi ketinggian diperoleh
melalui suatu pengamatan di tepi pantai yang dikenal dengan nama pengamatan
pasut. Pengamatan ini dilakukan dengan menggunakan alat-alat sederhana yang
bekerja secara mekanis, manual, dan elektronis.
Pengukuran sipat
datar KDV diawali dengan mengidentifikasi kesalahan sistematis dalam hal ini
kesalahan bidik alat sipat datar optis melalui suatu pengukuran sipat datar
dalam posisi 2 stand.
Peristiwa alam
menunjukan bahwa semakin tinggi suatu tempat maka semakin kecil tekanannya.
Hubungan antara tekanan dan ketinggian bergantung pada temperatur, kelembaban
dan percepatan gaya gravitasi. Secara sederhana kita dapat menentukan
hubungan antara perubahan tekanan dengan perubahan tinggi.
Menurut hukum
Boyle dan Charles:
P . V = R .
T..........................................1
Dimana:
P = tekanan gas (udara) persatuan masa, dalam satuan Newton/m2
V = volume gas (udara) persatuan masa, dalam satuan m3
R = konstanta gas (udara)
T = temperatur gas (udara) dalam satuan kelvin (00C = 2730K).
P = tekanan gas (udara) persatuan masa, dalam satuan Newton/m2
V = volume gas (udara) persatuan masa, dalam satuan m3
R = konstanta gas (udara)
T = temperatur gas (udara) dalam satuan kelvin (00C = 2730K).
Disamping itu,
karena antara massa m dengan volume V dan kepadatan mempunyai hubungan:
M = V .
Maka untuk satu
satuan masa, V = 1/.
Dengan demikian rumus di atas akan menjadi:
P = . R . T....................2
Bila perubahan
tekanan udara adalah dp untuk satu satuan luas sesuai dengan perubahan tinggi
dh, maka:
Dp = - g . . dh..............3
Dimana g =
percepatan gaya berat,
= kepadatan udara. Kombinasi rumus 2 dan 3 akan memberikan:
Bila P1 adalah
tekanan udara pada ketinggian H1 dan P2 adalah tekanan pada ketinggian
H2, maka dengan menggunakan rumus 4
Harga konstanta R
dapat ditentukan besarnya, apabila kita menentukan harga standar untuk p = ps ,
= s
dan T = Ts. Dari rumus 2:
Subtitusikan
harga R persamaan 6 kedalam persamaan 5:
Bila diambil
harga standar sbb:
Ps = 101325 N/m2 yang sesuai dengan tekanan 760 mmHg pada temperatur 00C dan g = 9.80665 N/kg
Ps = 101325 N/m2 yang sesuai dengan tekanan 760 mmHg pada temperatur 00C dan g = 9.80665 N/kg
Dimana:
P2 = tekanan
udara pada ketinggian H2 dalam mmHg
P1 = tekanan udara pada ketinggian H1 dalam mmHg
T = temperatur udara rata-rata pada ketinggian H1 dan H2 dalam 0K
Ts = temperatur udara standar = 2730K
P1 = tekanan udara pada ketinggian H1 dalam mmHg
T = temperatur udara rata-rata pada ketinggian H1 dan H2 dalam 0K
Ts = temperatur udara standar = 2730K
Ada beberapa
metode pengukuran yang dapat dilakukan, namun disini kita akan bahas dua
metode, yaitu:
- metode pengukuran tunggal (single
observation)
- metode pengukuran simultan
(simultaneous observation)
Misalkan titik -
titik A, B, C, D akan ditentukan beda - beda tingginya. Alat ukur yang
digunakan satu alat barometer dan satu alat thermometer.
Misal titik A
telah diketahui tingginya.
- Pertama sekali catat tekanan dan
temperatur udara di A.
- Kemudian kita berjalan menuju
titik B, C, D dan kemudian kembali ke C, B, dan A. Pada titik-titik yang
dilalui tadi (B, C, D, C, B, A) kita catat pula tekanan dan temperatur
udaranya.
- Dengan pencatatan besaranbesaran
tekanan dan temperatur di setiap titik, dengan rumus 8 dapat dihitung
beda-beda tingginya.
- Dan dari ketinggian A dapat
dihitung ketinggian B, C, dan D
Dalam keadaan
atmosfir yang sama idealnya pencatatan di setiap titik dilakukan, namun pada
pengukuran tunggal hal ini tidak mungkin dilakukan. Sehingga pencatatan
mengandung kesalahan akibat perubahan kondisi atmosfir.
Pada metode
simultan, pencatatan tekanan dan temperatur udara di dua titik yang ditentukan
beda tingginya dilakukan pada saat bersamaan.Maksudnya untuk mengeliminir
kesalahan karena perubahan kondisi atmosfir. Alat barometer dan thermometer
yang digunakan adalah dua buah. Barometer dan thermometer pertama ditempatkan
di titik yang diketahui tingginya sedangkan yang lain dibawa ke titik - titik
yang akan diukur.
Prosedur
pengukuran:
- Buat jadwal waktu penacatatan.
Misalkan t0, t1, t2, t3, t4, t5, t6.
- Alat - alat pertama (I)
ditempatkan di A, dan alat-alat kedua (II) berjalan dari A-B-C-D-C-B-A.
- Pada pukul t0, catat tekanan dan
temperatur di A (I) dan A (II)
- Pada pukul t1, catat tekanan dan
temperatur di A (I) dan B (II)
- Pada pukul t2, catat tekanan dan
temperatur di A (I) dan C (II)
- Pada pukul t3, catat tekanan dan
temperatur di A (I) dan D (II)
- Pada pukul t4, catat tekanan dan
temperatur di A (I) dan D (II)
- Pada pukul t5, catat tekanan dan
temperatur di A (I) dan C (II)
- Pada pukul t6, catat tekanan dan
temperatur di A (I) dan B (II)
- Pada pukul t7, catat tekanan dan
temperatur di A (I) dan A (II)
- Dari pencatatan di A dan
titik-titik lain dapat ditentukan beda tinggi terhadap A. Dengan demikian
beda tinggi antara dua titik yang berdekatan dapat diketahui.
Apabila
dimisalkan untuk tinggi H = 0, tekanannya adalah p = 739 mmHg maka rumus
umum untuk menghitung tinggi adalah:
Hi = (18402.6) (1
+ 0.003663 t) log ( i p 739 )
pi
Rumus berikut
ini, akan memberikan hasil h yang lebih baik, karena harga g yang digunakan
disesuaikan dengan ketinggian dan lintang tempat pengamatan. Sedangkan pada
rumus 8 harga g yang digunakan adalah harga g pada ketinggian nol dan lintang
450
Dimana:
2H = H1+H2 (harga pendekatan)
R = jari-jari bumi ( 6370 km)
= lintang tempat pengamatan rata-rata = ½ (1 +2 )
= 2.64399 x 10-3
2H = H1+H2 (harga pendekatan)
R = jari-jari bumi ( 6370 km)
= lintang tempat pengamatan rata-rata = ½ (1 +2 )
= 2.64399 x 10-3
Berdasarkan
uraian materi bab 3 mengenai pengukuran kerangka dasar vertikal, maka dapat
disimpulkan sebagi berikut:
- Kerangka dasar vertikal merupakan
kumpulan titik - titik yang telah diketahui atau ditentukan posisi
vertikalnya berupa ketinggiannya terhadap bidang rujukan ketinggian
tertentu.
- Pengukuran tinggi merupakan
penentuan beda tinggi antara dua titik. Pengukuran beda tinggi dapat
ditentukan dengan tiga metode, yaitu:
- Metode pengkuran penyipat datar
- Metode trigonometris
- Metode barometris.
- Pengukran beda tinggi metode
sipat datar optis adalah proses penentuan ketinggian dari sejumlah titik
atau pengukuran perbedaan elevasi. Tujuan dari pengukuran penyipat datar
adalah mencari beda tinggi antara dua titik yang diukur. Pengkuran sipat
datar terdiri dari beberapa macam, yaitu:
- Sipat datar memanjang
- Sipat datar resiprokal
- Sipat datar profil
- Sipat datar luas
- Pengukuran beda tinggi metode
trigonometris prinsipnya yaitu mengukur jarak langsung (jarak miring),
tinggi alat, tinggi benang tengah rambu dan sudut vertikal
(zenith atau inklinasi) yang kemudian direduksi menjadi informasi beda
tinggi menggunakan alat theodolite.
- Pengukuran beda tinggi metode
barometris prinsipnya adalah mengukur beda tekanan atmosfer suatu
ketinggian menggunakan alat barometer yang kemudian direduksi menjadi beda
tinggi.
- Tingkat ketelitian yang paling
tinggi dari ketiga metode tersebut adalah sipat datar kemudian
trigonometris dan terakhir adalah barometris. Pada prinsipnya ketiga
metode tersebut layak dipakai bergantung pada situasi dan kondisi
lapangan.
Soal
Latihan
Jawablah
pertanyaan - pertanyaan di bawah ini !
- Apa yang dimaksud dengan kerangka
dasar vertikal ?
- Jelaskan apa yang anda ketahui
tentang pengukuran beda tinggi metode sipat datar optis !
- Apa yang dimaksud dengan
pengukuran tinggi dan bagaimana cara mencari beda tingginya ?
- Sebutkan dan jelaskan macam -
macam pengukuran sipat datar ?
- Sebutkan macam - macam sipat
datar memanjang !
- Sebutkan bagian - bagian pesawat
sipat datar tipe dumpy level lengkap beserta gambarnya !
- Jelaskan prinsip pengukuran beda
tinggi metode trigonometris dan metode barometris yang anda ketahui !
- Sebutkan prosedur pengukuran dan
penurunan rumus beda tinggi metode trigonometris lengkap dengan
gambarnya !
- Dari ketiga metode pengukuran
beda tinggi, manakah yang mempunyai tingkat ketelitian paling tinggi dan
jelaskan alasannya !
- Jelaskan kelebihan dari alat
sipat datar tipe dumpy level, automatic level, tilting level, dan tipe
reversi ?